Mainkan sekarang

Lisvane

Ayahku sudah tidak bisa melihat warna, jadi aku yang membacakan lembah ini dari buku sketsanya.

Mainkan sekarangSudah rilis di PS5 dan PC, 3 September 2026
Bieito dan Uxía duduk di tembok batu di atas lembah hijau; Uxía membaca buku sketsa di pangkuannya, Bieito menghadap sungai.

Perjalanan

Margrave Ensalto memerintahkan Pengosongan: desa yang gandumnya kurang akan dipindahkan ke Ponteira di tepi sungai, lalu tanahnya diserahkan kepada domba. Selama empat puluh tahun Ayah melukis lembah ini, sehingga buku sketsanya masih menyimpan tempat-tempat yang sebentar lagi kosong itu. Kami berangkat untuk menemukannya satu per satu, sehari lebih cepat dari regu yang datang membawa paku dan papan, padahal regu itu belum sekali pun terlambat sampai di desa mana pun.

Dia ingat jalannyaAku ingat dia

Bieito Cardama, 61

Sekarang Ayah menggambar dengan hidung hampir menempel di kertas. Dia masih bisa menebak jenis batu dari bunyi tongkatnya di jalan, kemampuan yang sering lebih berguna daripada mataku.

Uxía Cardama, 12

Itu aku. Aku membaca catatan di pinggir halaman keras-keras, padahal tulisan Ayah miring seperti hujan dan separuhnya cuma singkatan yang hanya dia sendiri paham.

Uxía menunjuk ke depan sambil menoleh ke ayahnya, Bieito berjalan dengan tongkat dan memegang lengan bajunya.
Saiar: kincir-kincir air dari batu bertingkat di sepanjang sungai kecil, dengan gerobak berisi karung di depan pintu.
Uxía berjalan sambil membaca buku sketsa, Bieito di belakangnya dengan tangan di bahunya.

Saiar

Desa penggilingan

Di halaman ini ada enam kincir air. Waktu kami sampai, lima di antaranya masih berputar walaupun pemiliknya sudah mengikat kursi ke atas gerobak.

Bouzalonga: jembatan batu panjang dengan banyak lengkung di atas sungai dangkal berbatu, pondok penjaga di ujungnya.
Uxía menunjuk ke arah jembatan, Bieito mengikuti dengan tongkat.
Xusto Ferreiriña, lelaki tua berjubah kelabu dengan topi hijau, galah berkait, dan serenceng kunci besi.

Bouzalonga

Jembatan batu panjang

Ayah menghitung lengkungnya dengan langkah, bukan dengan mata, dan hitungannya cocok dengan gambar yang dia buat waktu umurnya dua puluh tahun.

Xusto FerreiriñaPenjaga jembatan ini ikut sampai kebun anggur, katanya jembatan tidak akan lari ke mana-mana.

Mereka datang besokKami pergi hari ini

Kebun anggur Socastro: teras-teras sempit berdinding batu di lereng curam di atas sungai yang berbelok.
Uxía dan Bieito berjalan menyusuri jalan setapak, Uxía membaca keras-keras.
Celsa Moraño, perempuan bertopi jerami lebar dengan baju kerja biru nila, membawa keranjang anggur gelap.

Socastro

Kebun anggur di teras

Bu Celsa menyuruhku mencicipi anggur dari teras paling bawah, lalu tertawa lama sekali melihat wajahku.

Celsa MorañoPemilik kebun ini memakai pisau pangkasnya untuk dahan anggur, dan ternyata juga untuk urusan lain.

Ribadoiro: dermaga kayu di sungai lebar, tongkang penuh karung gandum, kursi, dan rangka ranjang dari desa-desa yang dipindahkan.
Uxía menuntun Bieito ke arah dermaga.
Brais Outeda, pemuda kurus berambut ikal hitam dengan mantel seragam biru batu yang lencananya sudah dicabut.

Ribadoiro

Pelabuhan sungai

Semua tongkang di dermaga ini penuh ranjang dan alat tenun dari desa yang sudah dikosongkan, padahal di gambar Ayah, yang umurnya lebih tua dariku, isinya cuma karung gandum dan dua ekor kucing.

Brais OutedaPrajurit Margrave ini membelot di dermaga. Mantelnya masih biru, tapi semua lencananya sudah dia cabut sendiri.

Matanya makin redupBukunya makin penuh

Toxeira: halaman dalam bangunan tua berlengkung granit yang kini penuh gunungan garam putih dan sekop kayu.
Uxía membaca buku sketsa sambil berjalan, Bieito mengikutinya.

Toxeira

Biara kosong, kini gudang garam

Tempat ini sunyi sekali sampai aku bisa mendengar garam berderak di bawah sepatu, dan Ayah duduk lama di lengkungan ketiga tanpa bilang apa-apa.

Dia lupa warnanyaAku hafal letaknya

Rumah Bieito di Arnela: rumah batu bercat kapur dengan jendela lebar ruang lukis, kuda-kuda kosong, dan pohon ara di kebun.
Bieito dan Uxía duduk di atas sebongkah granit menghadap rumah; Bieito menggambar di buku sketsa, Uxía bercerita.

Arnela

Rumah Bieito

Rumah kami ada di halaman paling belakang, dan gambar ini tidak perlu kubacakan sebab Ayah hafal setiap jengkalnya dengan tangan.

Buku Sketsa

Permainannya mengikuti buku itu halaman demi halaman, jadi yang Ayah lupa harus kami cari lagi di jalan.

Garis

Dalam pertempuran aku menarik garis di antara musuh, dan serangan Ayah berjalan mengikuti garis itu. Kalau garisnya menyambung tiga musuh sekaligus, kami menyerang bersama dalam satu gerakan panjang yang biasanya cukup untuk membuat regu Pengosongan mundur ke jalan desa sambil memegangi topi mereka.

Ingatan

Setiap kali kami menemukan tempat dari buku, satu warna kembali ke dunia. Mula-mula hanya hijau rumput, lalu oker tanah, lalu biru sungai, sampai lembahnya terlihat seperti yang Ayah ingat.

Party dan tamu

Party kami selalu dua orang ditambah satu tamu yang ikut sebentar lalu pulang ke tempatnya. Ada 40 tempat di 6 desa, dan perjalanannya kira-kira 30 jam kalau kamu tidak kelamaan melamun di jembatan.

Media

Platform

Lisvane sudah bisa dimainkan di PS5 dan PC sejak 3 September 2026. Kalau kamu mulai malam ini, kami tunggu di jalan masuk Saiar besok pagi, sebelum regu itu datang.

PC

Trailer Lisvane

Buka di YouTube